INDOPROPERTYNEWS.COM – Industri properti Indonesia memasuki babak baru pada 2026. Setelah bertahun-tahun mengandalkan pembangunan proyek baru sebagai motor pertumbuhan, para pelaku industri kini mulai mengubah arah strategi dengan menitikberatkan pada peningkatan kualitas aset yang sudah dimiliki, efisiensi operasional, serta penerapan prinsip keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
Perubahan tersebut diungkap dalam laporan terbaru Colliers Indonesia, yang menilai transformasi strategi kini terjadi hampir di seluruh sektor properti, mulai dari perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan, hotel, hingga kawasan industri.
Jika sebelumnya pengembang berlomba menambah pasokan proyek baru, kini fokus bergeser pada renovasi bangunan, modernisasi fasilitas, reposisi aset, digitalisasi layanan, hingga penerapan konsep bangunan ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai lebih sesuai dengan kondisi pasar yang semakin matang dan kompetitif.
Menurut Colliers, konsumen maupun investor saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan harga. Mereka juga menilai kualitas bangunan, kenyamanan pengguna, fleksibilitas ruang, efisiensi operasional, hingga potensi kenaikan nilai investasi dalam jangka panjang.
Perkantoran Lebih Mengutamakan Kualitas
Di sektor perkantoran, pasar Jakarta masih menunjukkan tren pemulihan pada kuartal II 2026. Namun, pertumbuhan permintaan lebih banyak berasal dari relokasi perusahaan, peningkatan kualitas ruang kerja (flight to quality), serta penyesuaian kebutuhan ruang (rightsizing), bukan dari ekspansi bisnis berskala besar.
Perusahaan kini lebih memilih gedung yang sudah siap digunakan, baik semi-furnished maupun fully furnished. Strategi ini dinilai mampu menghemat biaya investasi awal sekaligus mempercepat proses operasional.
Selain kualitas bangunan, akses menuju transportasi publik seperti MRT Jakarta, LRT Jabodebek, dan KRL Commuter Line juga menjadi pertimbangan penting. Gedung yang memiliki sertifikasi bangunan hijau semakin diminati, terutama oleh perusahaan multinasional yang menerapkan standar ESG dalam operasional bisnisnya.
Apartemen Andalkan Penjualan Unit Siap Huni
Perubahan strategi juga terlihat di pasar apartemen strata title. Dibandingkan meluncurkan proyek baru, pengembang kini lebih fokus menghabiskan stok unit siap huni (ready stock).
Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) masih menjadi salah satu pendorong transaksi, khususnya bagi pembeli yang mencari unit yang bisa langsung ditempati.
Pasar apartemen juga semakin didominasi pembeli pengguna akhir (end-user). Mereka umumnya mempertimbangkan keterjangkauan harga, kemudahan pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), serta kesiapan unit sebelum mengambil keputusan.
Untuk menjaga daya saing, pengembang lebih memilih menawarkan berbagai promo, cicilan ringan, hingga skema pembayaran fleksibel dibandingkan memberikan potongan harga besar.
Hunian Ekspatriat Tetap Prospektif
Di segmen hunian ekspatriat, prospek pasar masih cukup positif seiring meningkatnya investasi asing di sektor energi, pertambangan, manufaktur, teknologi, hingga pusat data (data center).
BACA JUGA: Metland Blanjaproperti 2026 Tawarkan Hunian Siap Huni, Pembeli Bisa Langsung Tempati Rumah
Permintaan terbesar datang dari tenaga profesional asing yang membutuhkan hunian modern, berperabot lengkap (fully furnished), dan siap ditempati.
Meski demikian, Colliers menilai tantangan terbesar justru terletak pada terbatasnya pasokan hunian berkualitas internasional. Unit yang telah direnovasi dan memiliki fasilitas lengkap mampu mencatat tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan properti lama yang belum diperbarui.
Laporan tersebut juga menunjukkan serviced apartment semakin diminati karena menawarkan fleksibilitas, layanan lengkap, dan kepastian biaya bagi perusahaan multinasional.
Hotel Tak Lagi Bergantung pada Pasar MICE
Perubahan strategi juga terjadi di industri perhotelan.
Operator hotel di Jakarta mulai mengurangi ketergantungan terhadap pasar Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) dari instansi pemerintah. Sebagai gantinya, mereka memperluas pasar ke segmen perjalanan bisnis swasta, wisata keluarga, penyelenggaraan pernikahan, hingga berbagai aktivitas berbasis pengalaman (experience).
Di Bali, hotel-hotel mulai memperkuat konsep wellness tourism, layanan yang lebih personal, pengalaman budaya lokal, serta diversifikasi pendapatan di luar penjualan kamar.
Persaingan kini tidak lagi hanya mengandalkan tingkat okupansi maupun perang tarif, tetapi lebih pada kemampuan menghadirkan pengalaman yang unik dan berkesan bagi tamu.
Pusat Perbelanjaan Bertransformasi
Sementara itu, sektor ritel juga mengalami perubahan. Pengembang lebih memilih merevitalisasi pusat perbelanjaan yang sudah beroperasi dibandingkan membangun mal baru.
Konsep neighbourhood lifestyle centre menjadi tren karena mampu menghadirkan pusat aktivitas yang lebih dekat dengan kawasan permukiman.
Pengelola pusat perbelanjaan kini semakin memperhatikan komposisi penyewa (tenant mix), menghadirkan lebih banyak restoran, fasilitas hiburan, ruang komunitas, serta berbagai kegiatan yang mampu meningkatkan pengalaman berbelanja.
Strategi tersebut dinilai penting untuk mempertahankan loyalitas konsumen di tengah pesatnya perkembangan perdagangan digital.
BACA JUGA: Pasar Properti Cirebon Tetap Tumbuh, Hunian Bernuansa Danau Jadi Daya Tarik Baru
Kawasan Industri Makin Diminati Investor
Di sektor kawasan industri, Colliers menilai Semarang Raya mulai berkembang sebagai salah satu pusat industri baru yang semakin kompetitif.
Didukung pembangunan infrastruktur, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta strategi diversifikasi rantai pasok global China+1, kawasan ini mulai menarik investasi di sektor elektronik, farmasi, logistik, hingga pusat data.
Kini, daya saing kawasan industri tidak lagi hanya ditentukan oleh harga lahan. Investor juga mempertimbangkan kualitas utilitas, pasokan listrik, konektivitas logistik, akses menuju pelabuhan dan bandara, serta ekosistem bisnis yang mampu mendukung aktivitas industri secara berkelanjutan.
Menuju Pasar Properti yang Lebih Dewasa
Colliers menilai perubahan strategi di berbagai sektor tersebut menunjukkan bahwa industri properti Indonesia sedang bergerak menuju fase yang lebih matang.
Keberhasilan pengembang pada masa mendatang tidak lagi ditentukan oleh banyaknya proyek baru yang dibangun, melainkan oleh kemampuan mengelola aset yang telah dimiliki agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.
BACA JUGA: Usung Konsep European Classic, Alta Citra Bintaro Tawarkan Hunian dan Ruko Strategis
Peningkatan kualitas bangunan, penerapan prinsip ESG, efisiensi operasional, serta kemampuan menghadirkan pengalaman terbaik bagi pengguna diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing industri.
Dengan karakter pasar yang semakin selektif, pengembang yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen diyakini akan menjadi pemain yang paling siap menghadapi persaingan sekaligus menikmati pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.







